Analisis Mendalam: Mengapa Prabowo Soroti Kerapuhan Global dan Implikasinya bagi Indonesia
Ditulis Oleh
adit
Tanggal
11 Maret 2026
Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan pandangan kritisnya tentang kondisi dunia yang rapuh. Bagaimana Indonesia harus menyikapi dan mempersiapkan diri?

Dunia yang Bergetar: Saat Ketidakpastian Menjadi Kenyataan
Bayangkan sebuah peta dunia yang tidak lagi statis, tetapi bergerak-gerak seperti permukaan air yang terus-menerus diganggu oleh batu yang dilemparkan dari berbagai sudut. Itulah gambaran yang mungkin muncul di benak kita saat mendengar pernyataan Presiden Prabowo Subianto tentang kondisi global saat ini. Dalam pidatonya pada peringatan Nuzulul Qur'an di Istana Negara, bukan sekadar retorika diplomatik yang ia sampaikan, melainkan sebuah diagnosis yang tajam tentang realitas geopolitik yang sedang kita hadapi bersama. Dunia, menurutnya, sedang berada dalam fase yang 'penuh bahaya' dan 'ketidakpastian'—dua kata yang jika direnungkan, sebenarnya menggambarkan sebuah era yang sangat berbeda dari beberapa dekade sebelumnya.
Apa yang membuat pernyataan ini begitu penting untuk kita cermati? Ini bukanlah sekadar laporan situasi, melainkan sebuah pengakuan dari pemimpin negara terbesar keempat di dunia bahwa fondasi tatanan internasional sedang goyah. Ketika seorang presiden dengan pengalaman puluhan tahun di kancah pertahanan dan politik global berbicara tentang 'bahaya', ada bobot analitis yang perlu kita gali lebih dalam. Ini mengingatkan kita pada sebuah teori dalam hubungan internasional yang disebut 'anarki global', di mana tidak ada otoritas tunggal di atas negara-negara, sehingga konflik selalu menjadi potensi yang mengintai. Prabowo, secara implisit, sedang menunjuk pada kegagalan mekanisme global dalam meredam potensi itu.
Kegagalan Kepemimpinan Global: Sebuah Kritik yang Terang-Benderang
Salah satu poin paling mencolok dalam pidato Presiden adalah kritiknya terhadap para pemimpin dunia yang 'tidak dengan lancar menjaga perdamaian'. Ini adalah sebuah pernyataan yang cukup berani dan langsung ke sasaran. Dalam analisis saya, pernyataan ini mengacu pada beberapa fenomena konkret yang bisa kita amati. Pertama, adanya polarisasi kekuatan besar yang semakin tajam, menciptakan blok-blok yang saling bersitegang alih-alih bekerja sama untuk kemanusiaan. Kedua, kegagalan institusi multilateral seperti PBB dalam menegakkan resolusi perdamaian di berbagai titik konflik, dari Gaza hingga Ukraina.
Data dari Uppsala Conflict Data Program menunjukkan peningkatan signifikan dalam konflik bersenjata aktif selama lima tahun terakhir. Yang lebih mengkhawatirkan, proporsi konflik yang melibatkan aktor negara besar juga meningkat. Ini bukan lagi konflik perbatasan lokal, melainkan pertarungan pengaruh yang melibatkan teknologi canggih, perang siber, dan perang ekonomi. Ketika Prabowo menyebut 'kekuatan besar', ia mungkin merujuk pada negara-negara yang seharusnya menjadi penjaga stabilitas, tetapi justru sering menjadi sumber ketegangan baru.
Resep Indonesia: Persatuan dan Kerukunan sebagai Tameng
Lalu, di tengah badai global ini, apa yang ditawarkan Prabowo sebagai respons? Jawabannya terletak pada konsep yang mungkin terdengar klasik tetapi justru sangat relevan: persatuan dan kerukunan. Namun, ini bukan sekadar slogan. Dalam konteks pidatonya, ini adalah strategi pertahanan nasional yang bersifat sosiologis. Presiden menegaskan bahwa bangsa Indonesia, bersama banyak bangsa lain, perlu menggalang persatuan internal untuk menghadapi ketidakpastian eksternal.
Di sini muncul sebuah insight yang menarik. Dalam teori keamanan nasional, ada konsep叫做 'keamanan komprehensif' (comprehensive security) yang menyatakan bahwa ketahanan sebuah bangsa tidak hanya terletak pada kekuatan militernya, tetapi pada kohesi sosial, stabilitas politik, dan ketahanan ekonominya. Pernyataan Prabowo sejalan dengan filosofi ini. Dengan menyatukan 'segenap tumpah darah Indonesia' tanpa memandang suku, ras, atau agama, Indonesia membangun sebuah benteng sosial yang sulit ditembus oleh pengaruh destabilisasi dari luar. Ini adalah strategi yang cerdas di era di mana perang hibrida sering menggunakan isu identitas dan perpecahan internal sebagai senjata.
Janji Perlindungan: Dari Retorika ke Realitas Kebijakan
Bagian lain yang patut mendapat perhatian khusus adalah komitmen Presiden untuk 'melindungi, menjaga, mengurus, merawat, dan membina' seluruh rakyat Indonesia. Ini adalah janji yang sangat luas cakupannya. Dalam praktiknya, ini bisa diterjemahkan ke dalam berbagai kebijakan strategis. Misalnya, di bidang ekonomi, perlindungan berarti menjaga daya beli rakyat dari guncangan inflasi global. Di bidang sosial, ini berarti memastikan kebebasan beragama dan berkeyakinan terlindungi dari intoleransi. Di bidang politik, ini berarti menjaga kedaulatan dan integritas teritorial dari segala bentuk ancaman.
Yang menarik, Prabowo menekankan bahwa kerja keras untuk menjaga perdamaian adalah tugas utamanya. Ini mengisyaratkan bahwa konsep perdamaian yang ia maksud bukanlah status pasif tanpa konflik, melainkan sebuah kondisi aktif yang harus terus-menerus dibangun, dirawat, dan dipertahankan melalui kerja nyata. Dalam konteks global yang penuh ketegangan, menjaga perdamaian bisa berarti diplomasi yang gigih, kemandirian strategis di sektor pangan dan energi, serta kemitraan yang seimbang dengan berbagai kekuatan dunia.
Optimisme di Tengah Badai: Sebuah Paradoks yang Perlu Dipercaya?
Di akhir pidatonya, Presiden menyampaikan optimisme bahwa 'yang benar akan menang' dan Indonesia akan mencapai cita-cita pembangunannya dengan tekad dan komitmen yang kuat. Di satu sisi, ini adalah pesan yang membangkitkan semangat. Di sisi lain, dalam analisis yang lebih kritis, optimisme ini harus diuji dengan realitas yang sangat kompleks. Apakah keyakinan pada 'kebenaran' cukup sebagai kompas di dunia yang sering kali abu-abu secara moral dalam hubungan internasional?
Menurut pandangan saya, optimisme Prabowo mungkin bersumber pada dua hal. Pertama, keyakinan pada resilience (ketahanan) bangsa Indonesia yang telah terbukti menghadapi berbagai krisis sepanjang sejarah. Kedua, keyakinan pada prinsip-prinsip dasar yang dianut bangsa ini, seperti gotong royong dan musyawarah untuk mufakat, yang bisa menjadi modal sosial dalam menghadapi dunia yang tidak pasti. Namun, optimisme ini harus dibarengi dengan kewaspadaan yang tinggi dan perencanaan strategis yang matang. Sejarah mengajarkan bahwa bangsa yang terlalu percaya diri tanpa persiapan sering kali terperosok dalam krisis.
Refleksi Akhir: Apa yang Bisa Kita Lakukan sebagai Warga?
Mendengarkan pidato Presiden Prabowo, kita diajak untuk melihat cermin yang lebih besar—bukan hanya cermin nasional, tetapi cermin global. Dunia memang sedang tidak baik-baik saja. Konflik, ketegangan, dan ketidakpastian adalah menu harian berita kita. Namun, pesan penting yang bisa kita ambil adalah bahwa ketahanan dimulai dari dalam. Sebelum kita menyalahkan kondisi dunia, mungkin kita perlu bertanya: Sudah seberapa kuat persatuan kita di tingkat komunitas? Sudah seberapa toleran kita terhadap perbedaan di sekitar kita? Sudah seberapa siap kita menghadapi guncangan ekonomi yang mungkin datang dari krisis global?
Pernyataan Prabowo bukanlah akhir dari sebuah pembicaraan, melainkan awal dari sebuah kesadaran kolektif. Ia telah menyalakan lampu peringatan. Sekarang, tugas kita bersama—pemerintah, masyarakat sipil, dunia usaha, dan setiap warga negara—adalah memikirkan secara serius bagaimana membangun ketahanan di setiap lapisan masyarakat. Bukan dengan rasa takut, tetapi dengan kesiapan. Bukan dengan pesimisme, tetapi dengan kewaspadaan yang aktif. Pada akhirnya, di dunia yang penuh bahaya ini, bangsa yang bertahan bukanlah bangsa yang paling kuat militernya, melainkan bangsa yang paling mampu menjaga persatuannya dan paling lincah beradaptasi dengan perubahan. Apakah Indonesia akan menjadi bangsa seperti itu? Jawabannya ada di tangan kita semua, mulai dari hal-hal kecil yang kita lakukan hari ini.