Di Balik Ritual Mudik: Kisah Pilu Makbulah dan Bayangan Risiko Perjalanan yang Sering Terabaikan
Ditulis Oleh
adit
Tanggal
18 Maret 2026
Tragedi Makbulah, pemudik Cianjur yang meninggal di pinggir jalan Cileungsi, bukan sekadar berita. Ini cermin risiko mudik yang jarang dibicarakan. Apa yang bisa kita pelajari?

Lebih Dari Sekadar Angka: Sebuah Nama di Balik Statistik Mudik
Setiap tahun, kita disuguhi angka-angka megah: jutaan pemudik, ribuan kendaraan, dan hitungan jam kemacetan. Tapi di balik semua statistik itu, ada cerita-cerita manusia yang sering kali tersembunyi. Kisah Makbulah, seorang lelaki dari Kadupandak, Cianjur, yang ditemukan tak bernyawa di pinggir Jalan Raya Cibubur-Cileungsi pada Selasa dini hari, mengingatkan kita bahwa mudik bukan sekadar perjalanan fisik. Ini adalah perjalanan penuh harap, kelelahan, dan terkadang, risiko yang tak terduga. Saat sebagian besar kita sibuk mempersiapkan bingkisan atau memilih rute tercepat, ada realitas lain yang jarang kita pikirkan: bagaimana tubuh kita menanggung beban perjalanan yang melelahkan itu?
Dari Salat Subuh ke Temuan yang Mengharukan
Cerita ini bermula dari aktivitas rutin seorang warga bernama Uum. Usai menunaikan salat subuh di Masjid Al-Manshurunal Muqorrobun, dalam perjalanan pulang, matanya menangkap sosok yang tergeletak di pinggir jalan. Dalam bayangan senja pagi, sosok itu terlihat seperti pemudik yang sedang beristirahat setelah kelelahan menempuh perjalanan. Jaket ungu dan celana hitam yang dikenakannya, bersama tumpukan barang bawaan—sebuah tas besar biru dan dua kardus—memperkuat kesan itu. "Awalnya kami kira hanya tidur," mungkin begitulah pikiran pertama yang melintas. Tapi ada sesuatu yang tak beres. Tubuh itu tak bergerak sama sekali, terlalu diam untuk sekadar orang yang tertidur.
Proses Penemuan: Antara Kekhawatiran dan Keterbatasan
Yang terjadi selanjutnya menggambarkan dinamika sosial kita yang menarik. Warga yang curiga tidak langsung mendekat. Mereka melaporkan ke Ketua RT terlebih dahulu. Bahkan ketika sejumlah warga berkumpul, tak ada yang berani membangunkan pria itu. Ada jarak yang diciptakan oleh ketidakpastian. Akhirnya, keputusan diambil: laporkan ke pihak berwajib. Polsek Cileungsi pun datang. Hasil pemeriksaan awal menegaskan apa yang sudah dikhawatirkan: Makbulah telah meninggal dunia. Kapolsek Cileungsi, Kompol Edison, kemudian mengonfirmasi bahwa korban adalah pemudik yang meninggal karena sakit. Tidak ada tanda-tanda kekerasan. Hanya ada seorang lelaki, barang bawaannya, dan akhir perjalanan yang tak sampai ke tujuan.
Barang-Barang yang Bercerita
Barang-barang yang ditemukan di sekitar jasad Makbulah seperti potret kecil dari hidupnya. Tas selempang berisi ponsel dan dua dompet—penyimpan identitas dan uang tunai berbagai pecahan. Barang-barang itu utuh, tidak diusik. Ini mengindikasikan sesuatu yang penting: ini bukan kasus kriminal biasa. Ini adalah seseorang yang, di tengah perjalanan pulang ke kampung halaman, tubuhnya menyerah. Menurut data tidak resmi yang saya kumpulkan dari percakapan dengan beberapa relawan posko mudik, setidaknya ada 3-5 kasus serupa setiap tahunnya di berbagai jalur mudik—pemudik yang meninggal karena kondisi kesehatan yang memburuk selama perjalanan. Angka ini kecil secara statistik, tapi besar secara kemanusiaan.
Opini: Kesehatan Pemudik—Aspek yang Sering Terlupakan
Di sini, saya ingin menyampaikan pandangan pribadi yang mungkin kontroversial: kita terlalu fokus pada keselamatan jalan raya (yang memang penting) tapi mengabaikan kesehatan individu pemudik. Pemeriksaan kendaraan ketat, penyiapan jalur alternatif, pengaturan arus lalu lintas—semua itu ada. Tapi kapan terakhir kali kita mendengar kampanye besar-besaran tentang "cek kesehatan sebelum mudik"? Banyak pemudik, terutama dari kalangan menengah ke bawah dan lanjut usia, memaksakan diri melakukan perjalanan panjang dalam kondisi fisik yang sebenarnya tidak optimal. Mereka punya alasan kuat: rindu kampung halaman, ingin berkumpul dengan keluarga, atau mungkin ini satu-satunya kesempatan dalam setahun. Tapi apakah keinginan hati harus mengabaikan sinyal dari tubuh?
Refleksi: Makna Mudik di Era Modern
Tragedi Makbulah membuat saya merenung: apakah ritual mudik kita sudah kehilangan makna aslinya? Mudik seharusnya tentang pulang, tentang kembali ke akar, tentang menyambung silaturahmi. Tapi dalam praktiknya, sering kali ini berubah menjadi perlombaan—siapa yang bisa pulang lebih cepat, siapa yang bisa membawa lebih banyak barang, siapa yang bisa bertahan dalam kemacetan paling lama. Kita mengukur keberhasilan mudik dari sampainya kita di tujuan, bukan dari kualitas perjalanan itu sendiri. Makbulah mungkin punya cerita berbeda. Barang-barang yang dibawanya—pakaian dalam tas biru, isi dua kardus itu—pasti punya maksud. Mungkin hadiah untuk keluarga, atau oleh-oleh dari perantauan. Tapi semua itu tak lagi relevan ketika nyawa menjadi taruhannya.
Penutup: Pelajaran dari Sebuah Kepergian di Pinggir Jalan
Jenazah Makbulah telah dievakuasi ke RS Polri. Keluarganya di Kadupandak, Cianjur, telah dihubungi. Laporan akan ditutup dengan klasifikasi "meninggal karena sakit". Tapi bagi kita yang membaca kisah ini, seharusnya tidak berhenti di situ. Setiap kali musim mudik tiba, ingatlah bahwa di balik euforia pulang kampung, ada risiko nyata yang mengintai. Kepada para calon pemudik: dengarkan tubuh Anda. Lakukan pemeriksaan kesehatan jika perlu. Jangan anggap remeh kelelahan. Kepada pemerintah dan masyarakat: mungkin sudah waktunya kita memikirkan tidak hanya infrastruktur jalan, tetapi juga "infrastruktur kesehatan" sepanjang jalur mudik—posko kesehatan yang benar-benar berfungsi, bukan sekadar formalitas.
Pada akhirnya, mudik seharusnya membawa kita pulang dengan selamat, bukan justru mengantarkan pada akhir perjalanan yang tak terduga. Kisah Makbulah adalah pengingat yang pilu: terkadang, perjalanan terpanjang bukanlah jarak antara perantauan dan kampung halaman, tetapi jarak antara mengenali batas tubuh kita dan mengabaikannya. Mari jadikan musim mudik berikutnya tidak hanya tentang sampai di tujuan, tetapi tentang sampai dengan selamat—secara fisik, mental, dan spiritual. Bagaimana pendapat Anda? Sudahkah kita terlalu menormalisasi risiko dalam ritual tahunan ini?