Generasi Z di Bawah Bayang-Bayang Likes: Mengurai Beban Psikologis Media Sosial
Ditulis Oleh
Sera
Tanggal
6 Maret 2026
Scroll tanpa henti bukan sekadar kebiasaan. Ini adalah eksplorasi mendalam tentang bagaimana tekanan media sosial membentuk kesehatan mental, identitas, dan hubungan sosial generasi muda.

Generasi Z di Bawah Bayang-Bayang Likes: Mengurai Beban Psikologis Media Sosial
Bayangkan ini: setiap pagi, sebelum mata benar-benar terbuka, tangan sudah meraih ponsel. Scroll, like, scroll, komentar. Ritual ini bukan lagi pilihan, melainkan napas digital bagi kebanyakan anak muda. Tapi pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya, di balik layar yang terang itu, apa yang sebenarnya terjadi pada pikiran dan perasaan mereka? Tekanan dari media sosial itu nyata, halus, dan seringkali lebih dalam dari sekadar rasa cemas karena postingan yang kurang mendapat likes.
Saya sering mengamati keponakan remaja saya. Dia bisa menghabiskan satu jam hanya untuk memilih filter yang tepat atau mengedit satu foto. Yang ia cari bukan lagi kenangan, melainkan sebuah versi dirinya yang ‘layak’ untuk dilihat dunia. Di sinilah letak paradoksnya: platform yang dirancang untuk menghubungkan manusia justru sering kali menjadi sumber kecemasan yang menggerogoti koneksi dengan diri sendiri. Ini bukan lagi tentang apakah media sosial itu baik atau buruk, tetapi tentang bagaimana arus utamanya telah menciptakan ekosistem tekanan yang kompleks.
Ekosistem Validasi dan Ilusi Kesempurnaan
Media sosial telah membangun ekonomi baru: ekonomi perhatian dan validasi. Mata uangnya adalah likes, komentar, dan shares. Bagi otak remaja yang masih berkembang, sistem reward ini sangat kuat. Sebuah studi dari Universitas California, Los Angeles (UCLA) menemukan bahwa saat remaja melihat foto mereka mendapat banyak likes, area otak yang terkait dengan penghargaan (nucleus accumbens) menyala lebih terang. Ini menciptakan siklus ketergantungan. Mereka tidak sekadar berbagi; mereka sedang menunggu konfirmasi nilai diri dari orang asing.
Masalahnya, apa yang ditampilkan hanyalah puncak gunung es. Kita melihat liburan yang sempurna, pencapaian akademik, tubuh yang ideal—semua hasil kurasi dan editing. Yang tidak terlihat adalah hari-hari biasa, kegagalan, dan keraguan. Kontras antara realitas internal yang berantakan dan realitas eksternal yang sempurna inilah yang menjadi sumber tekanan utama. Anak muda tidak lagi membandingkan diri dengan tetangga, tetapi dengan ribuan ‘highlight reel’ dari seluruh dunia, 24/7.
Tuntutan Performa dan ‘Personal Branding’ di Usia Belia
Ada tekanan baru yang mungkin tidak dialami generasi sebelumnya: tuntutan untuk membangun ‘personal branding’ sejak remaja. Platform seperti TikTok dan Instagram tidak hanya untuk bersenang-senang; mereka dianggap sebagai portofolio digital, batu loncatan untuk menjadi influencer, atau setidaknya terlihat ‘relevan’. Saya pernah berbincang dengan seorang mahasiswa yang merasa wajib memposting aktivitas ‘produktif’-nya—seperti mengikuti webinar atau proyek kreatif—bukan karena ia ingin, tetapi karena takut dianggap tidak berkembang.
Budaya ‘hustle’ dan kesuksesan instan yang diglorifikasi di media sosial menciptakan ekspektasi yang tidak manusiawi. Remaja merasa bahwa jika di usia 17 tahun mereka belum memiliki proyek sampingan yang menghasilkan uang atau ribuan pengikut, mereka telah tertinggal. Ini adalah resep sempurna untuk kelelahan mental (burnout) dini dan rasa tidak pernah cukup. Mereka berlari dalam perlombaan yang garis finisnya terus bergerak.
Hubungan yang Dangkal dan Kesepian yang Terhubung
Ironi terbesar dari hiperkonektivitas adalah kesepian. Sebuah laporan dari organisasi kesehatan di Inggris, The Royal Society for Public Health, menyebut Instagram sebagai platform media sosial yang paling buruk dampaknya bagi kesehatan mental remaja, salah satunya dalam memicu perasaan kesepian. Mengapa? Interaksi di media sosial sering kali menggantikan percakapan yang dalam dan tatap muka. Seorang remaja bisa memiliki 1.000 teman di Instagram, tetapi merasa tidak ada seorang pun yang benar-benar mengenal dirinya yang sebenarnya.
Hubungan menjadi transaksional—dihitung berdasarkan likes dan komentar yang ditukar. Konflik atau ketidakcocokan yang normal dalam persahabatan nyata menjadi momok, karena bisa berujung pada ‘unfollow’ atau ‘block’ yang dramatis. Dunia digital mengajarkan untuk menghindari ketidaknyamanan, padahal justru dari situlah kedewasaan emosional tumbuh. Akibatnya, banyak anak muda yang terampil mengelola citra online, tetapi kesulitan membangun keintiman dan empati dalam hubungan offline.
Menggeser Paradigma: Dari Konsumsi Pasif ke Keterlibatan Sadar
Lalu, apa solusinya? Melarang media sosial bukanlah jawaban yang realistis. Yang lebih penting adalah menggeser cara kita, sebagai masyarakat, memandang dan menggunakannya. Pertama, kita perlu mendorong literasi digital kritis yang bukan sekadar cara mengoperasikan aplikasi, tetapi memahami algoritma, motif ekonomi di balik platform, dan seni mendeteksi konten yang dikurasi.
Kedua, orang dewasa—orang tua, guru, mentor—perlu menjadi ‘pelabuhan aman’ yang tidak menghakimi. Daripada menyalahkan, cobalah bertanya, “Apa yang kamu rasakan setelah menghabiskan waktu di Instagram hari ini?” atau “Menurutmu, mengapa postingan temanmu itu membuatmu merasa kurang?” Dialog semacam ini membuka ruang untuk refleksi, bukan sekadar larangan.
Ketiga, dan ini yang paling personal, kita perlu membantu anak muda menemukan kembali ‘diri offline’ mereka. Nilai diri harus ditanamkan kembali pada hal-hal yang tidak terukur secara digital: kebaikan hati, ketekunan menghadapi kegagalan, kegembiraan dalam momen kecil yang tidak diposting, dan kekuatan untuk merasa cukup tanpa pujian dari luar.
Sebuah Refleksi untuk Masa Depan yang Lebih Seimbang
Pada akhirnya, tekanan media sosial terhadap anak muda adalah cermin dari tekanan yang lebih besar dalam masyarakat kita: obsesi pada penampilan, produktivitas, dan validasi eksternal. Tantangan ini tidak akan selesai dengan aplikasi pembatas waktu saja. Ini membutuhkan perubahan budaya—sebuah kesadaran kolektif bahwa kehidupan yang ‘tidak instagramable’ pun tetap berharga dan valid.
Mari kita renungkan: apakah kita, sebagai bagian dari masyarakat digital, juga turut menciptakan standar yang tidak realistis? Setiap kali kita hanya meng-like konten yang glamour dan sempurna, kita mengukuhkan norma itu. Mungkin langkah pertama yang bisa kita semua ambil adalah mulai menghargai dan memvalidasi keautentikan—baik online maupun offline. Masa depan kesehatan mental generasi muda mungkin dimulai dari kesediaan kita sendiri untuk melepaskan diri dari bayang-bayang likes, dan memilih untuk terhubung dengan lebih manusiawi. Bagaimana pendapatmu?