Peristiwa

Ironi di Balik Rekor Laba Pertamina: Kisah Anak Muda yang Dulu Dipuji, Kini Jadi Tersangka

a

Ditulis Oleh

adit

Tanggal

6 Maret 2026

Ahok ungkap laba tertinggi Pertamina USD 4,7 miliar di 2023, namun para direktur muda yang berjasa kini jadi terdakwa kasus korupsi Rp 285 triliun.

Ironi di Balik Rekor Laba Pertamina: Kisah Anak Muda yang Dulu Dipuji, Kini Jadi Tersangka

Bayangkan sebuah perusahaan raksasa yang baru saja mencatatkan rekor keuntungan tertinggi dalam sejarahnya. Sorak-sorai seharusnya terdengar, penghargaan mungkin dibagikan. Tapi di balik angka fantastis USD 4,7 miliar yang dicapai Pertamina pada 2023, tersimpan sebuah ironi yang pahit. Para eksekutif muda yang dianggap sebagai pilar pencapaian itu, yang namanya pernah disebut dengan bangga, kini justru harus menghadapi meja hijau sebagai terdakwa. Ini bukan sekadar laporan keuangan biasa—ini adalah kisah tentang ambisi, pengawasan, dan sebuah kejatuhan yang menyisakan banyak pertanyaan tentang tata kelola BUMN di Indonesia.

Dalam persidangan kasus korupsi tata kelola minyak mentah baru-baru ini, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) hadir bukan sebagai terdakwa, melainkan sebagai saksi yang pernah memegang tampuk pengawasan. Saat menjabat Komisaris Utama Pertamina periode 2019-2024, Ahok menyaksikan langsung bagaimana perusahaan pelat merah itu menapaki puncak kesuksesan finansial. Namun, kesaksiannya justru mengungkap sisi lain yang kontras: pujian untuk kinerja berbalut duka atas nasib para ‘anak muda’ yang dulu dia banggakan.

Dua Sisi Mata Uang yang Sama: Prestasi dan Praduga

Ahok, dengan gaya blak-blakannya yang khas, menguraikan bagaimana Pertamina mencapai laba bersih USD 4,7 miliar di tahun 2023. Pencapaian ini, menurutnya, adalah buah dari pengawasan ketat Dewan Komisaris dan penerapan sistem digital. Namun, bagian paling menarik dari kesaksiannya adalah pengakuan terhadap peran sekelompok direktur muda berusia 30-40 tahun. Mereka—seperti Riva Siahaan, Maya Kusmaya, dan Edward Corne—dipuji karena kecerdasan dan kemampuan mereka membangun ekosistem digital seperti aplikasi MyPertamina.

"Mereka ini paham betul arahan untuk kemajuan perusahaan," ujar Ahok, seperti dikutip dari proses persidangan. Bahkan, ada satu ide brilian yang belum sempat terwujud: mengubah bentuk subsidi BBM menjadi voucher digital melalui aplikasi tersebut. Menurut Ahok, langkah itu bisa memberikan keuntungan luar biasa sekaligus meminimalisir kebocoran. Sayangnya, ide progresif itu kini tenggelam oleh gemuruh kasus hukum.

Dari Ruang Direksi ke Ruang Sidang: Daftar Panjang Tersangka

Fakta yang membuat banyak pihak tercengang adalah transformasi status para eksekutif muda tersebut. Dari pujian sebagai penggerak inovasi, mereka kini duduk di kursi terdakwa. Kejaksaan Agung menduga adanya tindakan korupsi dalam tata kelola minyak mentah dan sewa kilang yang diduga merugikan negara hingga Rp 285 triliun—angka yang hampir tak terbayangkan.

Tak hanya satu atau dua orang, setidaknya sembilan nama tercatat sebagai terdakwa dalam sidang di Pengadilan Tipikor Jakarta. Mereka berasal dari internal Pertamina dan pihak swasta mitra kerja. Beberapa nama yang pernah disebut Ahok sebagai ‘anak muda berbakat’ justru masuk dalam daftar panjang ini, menciptakan paradoks yang menyedihkan antara kontribusi dan dugaan pelanggaran.

Opini: Antara Sistem yang Rapuh dan Godaan yang Terlalu Besar

Melihat kasus ini, ada beberapa hal yang perlu direnungkan. Pertama, apakah sistem pengawasan di BUMN sebesar Pertamina sudah benar-benar efektif? Ahok mengklaim telah menjalankan fungsi pengawasan dengan ketat, termasuk melalui komite audit dan sistem digital. Namun, jika pengawasan itu sangat ketat, bagaimana praktik yang diduga merugikan triliunan rupiah bisa terjadi? Ini mengindikasikan kemungkinan adanya celah atau kelemahan sistemik yang tidak terdeteksi oleh mekanisme pengawasan formal.

Kedua, ada fenomena ‘godaan kewenangan’ pada eksekutif muda. Memberikan tanggung jawab besar kepada generasi muda adalah langkah progresif. Data dari berbagai studi manajemen menunjukkan bahwa kepemimpinan muda sering membawa inovasi dan energi segar. Namun, ketika kewenangan yang sangat besar—dalam hal ini mengelola kontrak bernilai triliunan—diberikan tanpa pendampingan dan ‘check and balance’ yang memadai, risiko penyalahgunaan menjadi tinggi. Apakah Pertamina telah mempersiapkan ‘immune system’ yang cukup kuat untuk melindungi para talenta mudanya dari godaan tersebut?

Ketiga, ironi digitalisasi. Aplikasi MyPertamina yang dibangun oleh para tersangka ini justru menjadi bukti kemampuan mereka. Ini menunjukkan bahwa korupsi modern tidak selalu dilakukan oleh orang-orang yang tidak kompeten. Sebaliknya, pelakunya sering kali sangat cerdas dan memahami sistem dengan baik—merekalah yang paling tahu di mana lubangnya. Digitalisasi, yang seharusnya menjadi alat transparansi, dalam kasus ini justru menjadi bagian dari narasi kejahatan yang canggih.

Refleksi Akhir: Pelajaran Pahit untuk Masa Depan BUMN

Kisah ini seharusnya menjadi alarm keras bagi semua BUMN di Indonesia. Mencetak laba tinggi adalah prestasi, tetapi keberlanjutan dan integritas adalah fondasi yang tidak bisa ditawar. Pencapaian finansial sebesar apa pun akan ternoda—bahkan menjadi tidak berarti—jika dibangun di atas praktik yang meragukan. Pertamina, sebagai perusahaan strategis negara, seharusnya menjadi contoh terbaik tata kelola korporat, bukan menjadi panggung drama hukum yang memalukan.

Di sisi lain, kita juga perlu belajar untuk tidak serta-merta menghakimi. Proses hukum harus berjalan seadil-adilnya. Jika terbukti bersalah, sanksi tegas harus diberikan sebagai efek jera. Namun, jika ada yang ternyata tidak bersalah, nama baik mereka harus dipulihkan. Yang lebih penting lagi adalah memperbaiki sistem. Mungkin inilah saatnya untuk mengevaluasi ulang model pengawasan di BUMN, memperkuat budaya integritas sejak dini, dan memastikan bahwa inovasi dan transparansi berjalan beriringan.

Pada akhirnya, kasus ini meninggalkan kita dengan sebuah pertanyaan mendasar: lebih penting mana, mengejar angka laba yang fantastis dalam waktu singkat, atau membangun fondasi perusahaan yang bersih dan berkelanjutan untuk generasi mendatang? Jawabannya mungkin tidak sederhana, tetapi kisah pilu para ‘anak muda’ Pertamina ini seharusnya memberi kita petunjuk yang cukup jelas. Mari jadikan ini sebagai titik balik untuk membangun tata kelola BUMN yang tidak hanya cerdas secara finansial, tetapi juga berintegritas tinggi.

Dipublikasikan

Jumat, 6 Maret 2026, 09:36

Komentar (2)

Tinggalkan Komentar

Budi Santoso

sekitar 2 jam yang lalu
Artikel yang sangat informatif! Saya baru tahu detailnya seperti ini. Terima kasih sudah berbagi.

Siti Aminah

1 hari yang lalu
Setuju banget. Semoga kedepannya lebih banyak artikel mendalam seperti ini.