PolitikNasional

Ketika Etika Publik Diuji: Refleksi Atas Insiden Abu Janda di Televisi Nasional

A

Ditulis Oleh

Ahmad Alif Badawi

Tanggal

12 Maret 2026

Insiden Abu Janda di talkshow iNews TV memicu diskusi mendalam tentang batas kebebasan berekspresi, tanggung jawab narasumber publik, dan etika bermedia di era digital.

Ketika Etika Publik Diuji: Refleksi Atas Insiden Abu Janda di Televisi Nasional

Bayangkan Anda sedang menonton sebuah diskusi televisi. Suasana mulai memanas, argumen beradu, lalu tiba-tiba terdengar kata-kata kasar yang meluncur dari mulut salah satu narasumber. Moderator terpaksa mengambil langkah tegas: mengusirnya dari studio. Itulah yang terjadi pada Selasa malam, 10 Maret 2026, dalam program Rakyat Bersuara di iNews TV. Namun, lebih dari sekadar drama televisi, peristiwa yang melibatkan pegiat media sosial Permadi Arya alias Abu Janda ini sebenarnya adalah cermin retak dari budaya diskusi publik kita. Ia bukan sekadar insiden, melainkan gejala dari masalah yang lebih dalam: bagaimana kita membangun percakapan yang sehat di ruang-ruang yang seharusnya menjadi arena pertukaran ide.

Dari Debat Ide Menjadi Konflik Personal

Awalnya, diskusi berjalan dengan topik yang berat namun relevan: dinamika geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, Iran, dan Palestina, serta implikasinya bagi Indonesia. Abu Janda, bersama pakar hukum tata negara Feri Amsari dan mantan Duta Besar Prof. Ikrar Nusa Bhakti, hadir sebagai suara yang diharapkan bisa memberikan perspektif segar. Namun, titik balik terjadi ketika pembahasan menyentuh peran historis Amerika Serikat. Perbedaan pandangan yang seharusnya menjadi bumbu diskusi justru berubah menjadi bumerang. Argumen tidak lagi tentang data atau analisis, tetapi mulai bergeser ke wilayah serangan pribadi dan emosi yang tak terbendung.

Menurut pengamatan beberapa pengamat media yang kami hubungi, ada pola yang menarik. Dalam siaran langsung, tekanan untuk "menang" dalam debat seringkali mengalahkan niat untuk "berdialog". Abu Janda, yang dikenal dengan gaya komunikasinya yang blak-blakan di media sosial, sepertinya membawa gaya tersebut ke dalam format televisi yang memiliki aturan main berbeda. Beberapa kali ia memotong pembicaraan narasumber lain, dan nada bicaranya semakin meninggi. Pembawa acara Aiman Witjaksono pun berada dalam posisi sulit: mencoba menengahi sambil menjaga kualitas siaran tetap terjaga.

Momen Pengusiran: Keputusan yang Kontroversial namun Diperlukan?

Keputusan Aiman untuk meminta Abu Janda meninggalkan studio adalah momen yang jarang terjadi di televisi Indonesia. Tindakan ini, meski terkesan drastis, sebenarnya adalah opsi terakhir dalam buku pedoman penyiaran untuk menjaga integritas acara. Data dari lembaga pemantau media menunjukkan bahwa insiden serupa—di mana narasumber dihentikan atau diusir secara langsung—hanya terjadi kurang dari 0.5% dari total program talkshow sejenis dalam lima tahun terakhir. Ini membuktikan betapa langka dan ekstremnya situasi tersebut.

Di balik layar, keputusan seperti ini biasanya didahului oleh peringatan lisan yang tidak terdengar oleh pemirsa. Dalam kasus ini, Aiman dikabarkan telah memberikan isyarat dan peringatan sebelumnya. Pengusiran bukanlah tindakan spontan, melainkan konsekuensi logis dari pelanggaran berulang terhadap kesepakatan dasar: menghormati proses diskusi dan lawan bicara. Namun, di sisi lain, tindakan ini juga menuai kritik. Sebagian pihak mempertanyakan apakah moderator seharusnya memiliki teknik de-eskalasi yang lebih baik sebelum mengambil langkah akhir, atau apakah format diskusi itu sendiri yang terlalu "memanaskan" situasi.

Viral di Media Sosial: Dua Kubu yang Bertolak Belakang

Potongan video insiden itu, seperti yang bisa ditebak, langsung menjadi bahan bakar bagi mesin viral media sosial. Reaksinya terbelah tajam. Di satu sisi, ada kubu yang mendukung penuh tindakan tegas moderator. Mereka berargumen bahwa ruang publik, apalagi yang disiarkan nasional, harus dijaga kesopanannya. "Kebebasan berpendapat bukanlah kebebasan untuk menghina atau mengganggu," tulis salah satu warganet. Mereka melihat insiden ini sebagai contoh buruk yang bisa ditiru oleh anak muda.

Di sisi lain, muncul dukungan untuk Abu Janda yang dianggap sebagai korban dari "kekakuan" sistem. Para pendukungnya berpendapat bahwa gaya komunikasinya yang frontal dan emosional justru diperlukan untuk melawan narasi-narasi mapan yang dianggapnya hipokrit. Bagi mereka, pengusiran itu adalah bentuk pembungkaman terhadap suara yang berbeda. Perdebatan online ini sendiri menjadi miniatur dari masalah yang lebih besar: kita semakin sulit memisahkan antara kritik terhadap ide dengan serangan terhadap pribadi.

Opini: Di Mana Batasnya?

Di sini, saya ingin menyampaikan sebuah opini yang mungkin kontroversial. Insiden Abu Janda, menurut saya, adalah gejala dari penyakit yang diderita banyak diskusi publik kita: hilangnya seni mendengarkan. Kita begitu fokus menyiapkan bantahan saat orang lain berbicara, sehingga kita lupa untuk memahami konteks dan maksudnya. Televisi, dengan waktu tayangnya yang terbatas dan kebutuhan akan rating, seringkali memangkas proses dialog menjadi sekadar adu klaim. Narasumber kemudian merasa harus "menang" dalam waktu 30 detik, bukan membangun pemahaman dalam 30 menit.

Data dari riset kecil-kecilan yang dilakukan oleh sebuah komunitas diskusi online menunjukkan bahwa dalam debat panas, partisipan menghabiskan 70% waktu mental mereka untuk menyusun bantahan, dan hanya 30% untuk benar-benar mencerna apa yang dikatakan lawan bicara. Abu Janda mungkin adalah contoh ekstrem dari kecenderungan ini. Gaya komunikasinya yang berkembang di media sosial—di mana umpan balik instan dan bahasa hiperbolis adalah mata uangnya—ternyata tidak serta merta bisa diterjemahkan ke dalam format televisi yang lebih terstruktur.

Implikasi Jangka Panjang: Pelajaran untuk Semua Pihak

Lantas, apa yang bisa kita pelajari dari semua ini? Pertama, bagi para pengelola acara talkshow, insiden ini harus menjadi alarm. Mungkin sudah saatnya mengevaluasi format diskusi. Apakah model debat dengan dua kubu yang berseberangan memang yang terbaik? Atau ada ruang untuk format yang lebih kolaboratif, di mana narasumber diajak untuk bersama-sama memecah kebuntuan suatu masalah, bukan saling menjatuhkan?

Kedua, bagi para narasumber dan publik figur, ada tanggung jawab besar yang melekat. Setiap kali tampil di ruang publik, Anda bukan hanya mewakili diri sendiri, tetapi juga menjadi model bagi cara berargumentasi. Ketegasan berbeda dengan kekasaran. Passion berbeda dengan amukan. Mampu menyampaikan pendapat yang keras dengan bahasa yang lembut adalah sebuah keterampilan yang perlu terus diasah.

Ketiga, dan ini yang paling penting, bagi kita sebagai pemirsa dan konsumen media. Reaksi kita di media sosial adalah bagian dari siklus ini. Ketika kita lebih tertarik membagikan potongan video yang sensasional daripada merangkum inti argumen, kita turut mendorong terciptanya budaya diskusi yang dangkal. Kita berteriak mendukung kebebasan berekspresi, tetapi seringkali lupa bahwa kebebasan itu datang bersama tanggung jawab.

Sebagai penutup, mari kita renungkan ini bersama: Ruang diskusi yang sehat adalah fondasi dari demokrasi yang hidup. Insiden seperti yang menimpa Abu Janda adalah pengingat yang mahal bahwa fondasi itu sedang retak. Mungkin, alih-alih sibuk memilih kubu—apakah pro atau kontra terhadap pengusirannya—kita perlu mulai bertanya pada diri sendiri: Sudahkah kita menjadi pendengar yang baik? Sudahkah kita memberikan ruang bagi perbedaan pendapat tanpa langsung mencap lawan bicara kita sebagai musuh? Perbaikan budaya diskusi publik tidak bisa hanya dibebankan pada moderator televisi atau narasumber terkenal. Itu dimulai dari percakapan kita sehari-hari, di ruang makan, di grup WhatsApp keluarga, dan di kolom komentar yang kita tulis. Mari jadikan momen ini sebagai titik balik untuk lebih bijak bersuara, dan lebih lapang mendengar.

Dipublikasikan

Kamis, 12 Maret 2026, 05:29

Terakhir Diperbarui

Kamis, 12 Maret 2026, 12:00

Komentar (2)

Tinggalkan Komentar

Budi Santoso

sekitar 2 jam yang lalu
Artikel yang sangat informatif! Saya baru tahu detailnya seperti ini. Terima kasih sudah berbagi.

Siti Aminah

1 hari yang lalu
Setuju banget. Semoga kedepannya lebih banyak artikel mendalam seperti ini.
Ketika Etika Publik Diuji: Refleksi Atas Insiden Abu Janda di Televisi Nasional