Politik

Strategi PSI di Sulsel: Merekrut Rusdi Masse dan Mencari 'DNA' Jokowi di Daerah

a

Ditulis Oleh

adit

Tanggal

6 Maret 2026

Analisis mendalam soal langkah strategis PSI merekrut Rusdi Masse. Bukan sekadar pindah partai, tapi upaya membangun narasi dan mencari figur dengan karakteristik mirip Jokowi di tingkat daerah.

Strategi PSI di Sulsel: Merekrut Rusdi Masse dan Mencari 'DNA' Jokowi di Daerah

Pernahkah Anda memperhatikan bagaimana partai politik membangun narasi di sekitar seorang tokoh? Di tengah dinamika politik Indonesia yang semakin cair, perpindahan kader antar partai bukan lagi hal yang mengejutkan. Namun, yang menarik untuk diamati adalah bagaimana partai kemudian 'membingkai' atau 'mengemas' tokoh yang baru bergabung tersebut. PSI, dengan langkahnya merekrut Rusdi Masse, mantan kader senior NasDem Sulawesi Selatan, memberikan contoh yang cukup menarik. Mereka tidak sekadar menyambut seorang politikus berpengalaman, tetapi langsung memberinya sebuah julukan yang sarat makna: "Jokowinya Sulsel". Julukan ini bukan sekadar pujian kosong, melainkan sebuah strategi komunikasi politik yang cerdas dan penuh perhitungan.

Membaca Makna di Balik Julukan "Jokowinya Sulsel"

Ketika Sekjen PSI Raja Juli Antoni menyebut Rusdi Masse sebagai "Jokowinya Sulawesi Selatan", ada beberapa lapisan makna yang bisa kita gali. Pertama, ini adalah upaya untuk mentransfer popularitas dan citra positif Presiden Jokowi ke level daerah. Jokowi, dengan gaya kepemimpinannya yang dianggap merakyat, pekerja keras, dan minim retorika, telah membangun elektabilitas yang kuat. Dengan menyematkan julukan tersebut, PSI seolah-olah mengatakan, "Kami memiliki figur dengan kualitas kepemimpinan yang sama, tapi untuk wilayah Sulsel." Kedua, julukan ini berfungsi sebagai alat legitimasi instan. Bagi pemilih di Sulsel yang mungkin belum terlalu mengenal Rusdi Masse, asosiasi dengan Jokowi bisa menjadi pintu masuk untuk menerima dan mempercayainya.

Rusdi Masse: Lebih dari Sekadar Mantan NasDem

Melihat track record-nya, Rusdi Masse bukanlah politikus baru. Pengalamannya sebagai mantan Ketua DPW NasDem Sulsel memberinya jaringan, pemahaman tentang peta politik daerah, dan tentu saja, basis pendukung tertentu. Bagi PSI yang masih berusaha memperkuat akar di berbagai daerah, terutama di luar Jawa, mendapatkan figur seperti Rusdi adalah langkah strategis. Ia bisa menjadi 'jembatan' yang menghubungkan energi muda dan ide-ide segar PSI dengan realitas politik lokal di Sulsel yang mungkin membutuhkan pendekatan yang berbeda. Ini adalah upaya untuk menyeimbangkan antara citra partai muda dengan kebutuhan akan kematangan dan koneksi di lapangan.

Opini: PSI dan Pencarian "DNA" Politik yang Populis

Di sini, saya ingin menyisipkan sebuah opini. Langkah PSI ini mengindikasikan sebuah pola yang lebih besar: pencarian partai-partai, terutama yang baru, terhadap "DNA" politik yang sudah terbukti diterima masyarakat. Gaya kepemimpinan ala Jokowi—santun, fokus pada kerja, dan dekat dengan rakyat kecil—telah menjadi sebuah "formula" yang dianggap sukses. Dengan menyebut Rusdi Masse memiliki tipikal yang sama, PSI sebenarnya sedang berusaha mengadopsi dan mengadaptasi formula tersebut ke dalam kader-kadernya di daerah. Ini adalah strategi branding politik yang pintar, tetapi juga mengandung risiko. Risikonya adalah jika performa sang tokoh di lapangan tidak benar-benar mencerminkan julukan yang disandangnya, maka kredibilitas partai juga bisa ikut terdampak. Julukan adalah janji, dan janji itu harus ditepati dengan kerja nyata.

Implikasi bagi Peta Politik Sulawesi Selatan

Kehadiran Rusdi Masse di PSI berpotensi menggeser persaingan di Sulsel. Partai-partai yang selama ini mendominasi, seperti Golkar atau Demokrat, mungkin harus mulai mempertimbangkan PSI sebagai pesaing yang lebih serius, khususnya di basis-basis pemilih yang selama ini menjadi kekuatan Rusdi. PSI, yang sebelumnya mungkin lebih dikenal sebagai partainya anak muda urban, kini memiliki sosok yang bisa menjangkau pemilih yang lebih luas dan beragam di Sulsel. Sinergi antara platform digital dan kekuatan jaringan tradisional yang dibawa Rusdi bisa menjadi kombinasi yang menarik untuk diamati pada pemilu-pemilu mendatang.

Refleksi Akhir: Narasi vs. Substansi dalam Politik

Pada akhirnya, kasus Rusdi Masse dan julukan "Jokowinya Sulsel" mengajak kita untuk melakukan refleksi yang lebih dalam. Di era di mana narasi dan framing sangat kuat mempengaruhi persepsi publik, kita sebagai pemilih perlu lebih kritis. Sehebat apapun julukan yang diberikan, seindah apapun narasi yang dibangun, yang paling menentukan tetap adalah rekam jejak dan kerja nyata sang tokoh itu sendiri. Apakah Rusdi Masse benar-benar akan membawa angin perubahan dan kerja konkret untuk Sulsel, ataukah ini sekadar permainan kata-kata untuk menarik simpati? Hanya waktu yang bisa menjawab.

Pertanyaan yang patut kita renungkan bersama: Sejauh mana kita sebagai masyarakat terpengaruh oleh label dan julukan dalam menilai seorang pemimpin? Mari kita jadikan momen ini sebagai pengingat untuk selalu melihat lebih dari sekadar narasi yang dibangun, dan fokus pada substansi serta kontribusi nyata yang diberikan untuk daerah dan negara. Politik membutuhkan lebih dari sekadar kata-kata yang indah; ia membutuhkan tindakan yang membumi dan membawa manfaat langsung bagi kehidupan orang banyak.

Dipublikasikan

Jumat, 6 Maret 2026, 09:38

Komentar (2)

Tinggalkan Komentar

Budi Santoso

sekitar 2 jam yang lalu
Artikel yang sangat informatif! Saya baru tahu detailnya seperti ini. Terima kasih sudah berbagi.

Siti Aminah

1 hari yang lalu
Setuju banget. Semoga kedepannya lebih banyak artikel mendalam seperti ini.